Pentingnya blog bagi guru
Rabu, 12 Mei 2010 07:09:30 - oleh : admin
Mengapa sayap mobil balap F1 dipasang terbalik? Karena fungsi sayap
jet darat itu bukan untuk mengangkat seperti sayap pada pesawat terbang,
melainkan justru menekan mobil melekat ke lintasan. Sayap yang terbalik
juga akan memberikan tenaga tarikan yang lebih baik dan laju mobil
lebih stabil.
Informasi itu tak saya dapatkan dari situs web resmi F1. Bukan pula
dari situs web para pecandu mobil balap. Saya justru memperoleh
pengetahuan tentang sayap terbalik mobil F1 itu dari blog Fisikane milik Iksan Taufik
Hidayanto, pengajar dan Kepala Laboratorium Fisika MAN 1 Purwokerto,
Jawa Tengah.
Iksan tentu bukan satu-satunya guru yang memiliki blog. Saya tak tahu
jumlah pastinya, tapi bila saya ketik kata “blog guru” di Google, akan
keluar beberapa pengumpul blog guru, seperti Blog Guru, Guru Indonesia, Indonesia Teacher Community,
dan Aksi Guru. Mereka adalah Ki Hajar
Dewantara di era web 2.0. Orang-orang yang mendidik para siswa melalui
blog. Teladan untuk pengingat Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada
2Mei.
Mengapa banyak guru membuat blog? Sawali Tuhusetya, guru, menulis di
jurnal pribadinya bahwa blog adalah salah satu media meningkatkan
kualitas diri seorang pendidik. Seorang guru adalah agen pembelajar yang
harus memiliki empat jenis kompetensi: pedagogik, kepribadian, sosial,
dan profesional.
Melalui blog, Sawali menulis, guru akan terangsang meningkatkan
kualitas diri dengan membuat aneka jenis tulisan yang bermanfaat bagi
kepentingan dunia pembelajaran di sekolah. Dengan cara demikian, secara
tidak langsung, blog bisa menjadi sebuah media penyaluran yang
mencerahkan dunia pembelajaran di sekolah. Kekuatan “tautan” antarweb
dan blog dalam dunia Internet menyediakan bunga rampai pengetahuan yang
(nyaris) tak terbatas bagi seorang guru.
Lewat blog, menurut Sawali, guru juga akan mudah melakukan ekspresi
diri. Temuan-temuan praktis dari dunia pembelajaran bisa diangkat dan
menjadi sebuah wacana yang menarik dalam sebuah blog sehingga bisa
memancing siapa pun yang memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan
untuk berkomentar atau berdiskusi. Bukankah ini sebuah “kekuatan” yang
hampir tidak dimiliki oleh media mana pun?
Jangan lupa, guru adalah profesi yang dituntut untuk selalu berbagi.
Mereka berbagi pelajaran, ilmu, gagasan, dan sebagainya kepada anak
didik–setiap hari. Ibarat sumur, seorang guru tak akan pernah kekeringan
bahan untuk dibagikan.
Akan lebih baik bila pelajaran dari seorang guru tidak hanya diterima
oleh murid-muridnya di kelas, tapi juga anak-anak lain di mana pun
mereka berada. Semakin banyak anak, semakin baik. Kalau bisa, bahkan
bukan hanya murid yang memperoleh pelajaran itu, tapi juga semua orang.
Cara menyebarluaskan ilmu adalah melalui blog dan media sosial
lainnya, seperti Facebook dan Twitter. Blog adalah jaringan terbuka yang
bisa diakses di mana saja. Hanya dibutuhkan seperangkat komputer dan
akses ke Internet. Lewat blog, pembaca sebuah tulisan tak terbatas. Blog
membuat ruangan kelas bagaikan tanpa sekat.
Blog adalah media yang membebaskan. Di blog, seorang guru matematika,
misalnya, boleh saja menulis tentang masalah etiket. Guru bahasa pun
dipersilakan membahas masalah di luar bidang ajarnya, contohnya filsafat
olahraga. Seorang guru fisika bahkan tak dilarang berbagi teknik
fotografi yang menjadi hobinya di luar sekolah. Pendeknya, blog bisa
membuat guru menjadi dan berbagi apa saja.
Blog justru akan memancing guru berkreasi semaksimal mungkin. Dengan
teknologi yang melekat padanya, blog memungkinkan guru menambahkan
gambar, suara, atau video sebagai pelengkap bahan ajar. Materi pelajaran
niscaya akan semakin menarik dan memicu kreativitas anak didik.
sumber:kompas.com
Mengapa sayap mobil balap F1 dipasang terbalik? Karena fungsi sayap jet darat itu bukan untuk mengangkat seperti sayap pada pesawat terbang, melainkan justru menekan mobil melekat ke lintasan. Sayap yang terbalik juga akan memberikan tenaga tarikan yang lebih baik dan laju mobil lebih stabil.
Informasi itu tak saya dapatkan dari situs web resmi F1. Bukan pula dari situs web para pecandu mobil balap. Saya justru memperoleh pengetahuan tentang sayap terbalik mobil F1 itu dari blog Fisikane milik Iksan Taufik Hidayanto, pengajar dan Kepala Laboratorium Fisika MAN 1 Purwokerto, Jawa Tengah.
Iksan tentu bukan satu-satunya guru yang memiliki blog. Saya tak tahu jumlah pastinya, tapi bila saya ketik kata “blog guru” di Google, akan keluar beberapa pengumpul blog guru, seperti Blog Guru, Guru Indonesia, Indonesia Teacher Community, dan Aksi Guru. Mereka adalah Ki Hajar Dewantara di era web 2.0. Orang-orang yang mendidik para siswa melalui blog. Teladan untuk pengingat Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2Mei.
Mengapa banyak guru membuat blog? Sawali Tuhusetya, guru, menulis di jurnal pribadinya bahwa blog adalah salah satu media meningkatkan kualitas diri seorang pendidik. Seorang guru adalah agen pembelajar yang harus memiliki empat jenis kompetensi: pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.
Melalui blog, Sawali menulis, guru akan terangsang meningkatkan kualitas diri dengan membuat aneka jenis tulisan yang bermanfaat bagi kepentingan dunia pembelajaran di sekolah. Dengan cara demikian, secara tidak langsung, blog bisa menjadi sebuah media penyaluran yang mencerahkan dunia pembelajaran di sekolah. Kekuatan “tautan” antarweb dan blog dalam dunia Internet menyediakan bunga rampai pengetahuan yang (nyaris) tak terbatas bagi seorang guru.
Lewat blog, menurut Sawali, guru juga akan mudah melakukan ekspresi diri. Temuan-temuan praktis dari dunia pembelajaran bisa diangkat dan menjadi sebuah wacana yang menarik dalam sebuah blog sehingga bisa memancing siapa pun yang memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan untuk berkomentar atau berdiskusi. Bukankah ini sebuah “kekuatan” yang hampir tidak dimiliki oleh media mana pun?
Jangan lupa, guru adalah profesi yang dituntut untuk selalu berbagi.
Mereka berbagi pelajaran, ilmu, gagasan, dan sebagainya kepada anak
didik–setiap hari. Ibarat sumur, seorang guru tak akan pernah kekeringan
bahan untuk dibagikan.
Akan lebih baik bila pelajaran dari seorang guru tidak hanya diterima
oleh murid-muridnya di kelas, tapi juga anak-anak lain di mana pun
mereka berada. Semakin banyak anak, semakin baik. Kalau bisa, bahkan
bukan hanya murid yang memperoleh pelajaran itu, tapi juga semua orang.
Cara menyebarluaskan ilmu adalah melalui blog dan media sosial lainnya, seperti Facebook dan Twitter. Blog adalah jaringan terbuka yang bisa diakses di mana saja. Hanya dibutuhkan seperangkat komputer dan akses ke Internet. Lewat blog, pembaca sebuah tulisan tak terbatas. Blog membuat ruangan kelas bagaikan tanpa sekat.
Blog adalah media yang membebaskan. Di blog, seorang guru matematika, misalnya, boleh saja menulis tentang masalah etiket. Guru bahasa pun dipersilakan membahas masalah di luar bidang ajarnya, contohnya filsafat olahraga. Seorang guru fisika bahkan tak dilarang berbagi teknik fotografi yang menjadi hobinya di luar sekolah. Pendeknya, blog bisa membuat guru menjadi dan berbagi apa saja.
Blog justru akan memancing guru berkreasi semaksimal mungkin. Dengan teknologi yang melekat padanya, blog memungkinkan guru menambahkan gambar, suara, atau video sebagai pelengkap bahan ajar. Materi pelajaran niscaya akan semakin menarik dan memicu kreativitas anak didik.
sumber:kompas.com
Menu Pilihan
SISTER ( Sistem Informasi Terpadu )
Kategori Berita
kirim ke teman
versi cetak
Web :
Email : surat@smpn5-mlg.sch.id
YM : smpn5mlg
Jalan : W.R Supratman 12 Malang - 65111 - Jawa Timur Indonesia.
Telp : (0341)482713 Fax : (0341)482236
